Jarang sekali kita menemukan film yang begitu memikat sehingga bisa memberi kita bahan untuk berpikir. Seperti halnya Tokyo Godfathers , film klasik yang tak tertandingi dalam hal visual dan alur ceritanya yang unik.
Dibandingkan dengan film-film Satoshi Kon sebelumnya, film klasik Natal ini merupakan pelukan hangat di hari musim dingin. Terutama karena penggambaran festivalnya yang disertai realisme dan fantasi. Di atas segalanya, film ini menggulingkan budaya pembatalan dengan caranya yang unik.
Film ini merangkai kehidupan dan narasi menjadi simfoni yang memukau. Baik Gin maupun Miyuki, Kon tidak melewatkan satu hal pun dalam penggambarannya tentang kompleksitas. Namun, yang terpenting, penggambarannya tentang wanita transgenderlah yang melampaui film-film lainnya.
Menariknya, pandangannya tentang peran sebagai orang tua dan hubungan yang rumit adalah hal yang membuat film ini menonjol dalam banyak aspek. Namun, kita baru menyentuh permukaannya saja dalam film ini.
Tokyo Godfathers jauh lebih unggul dalam permainannya
Dirilis pada tahun 2003, Tokyo Godfathers adalah salah satu film animasi klasik terbaik yang mengingatkan kita pada Natal. Meskipun tidak terlalu menonjolkan perayaannya, film ini memiliki cara unik untuk menyatukan orang-orang. Perayaan hanyalah sarana untuk memaparkan peristiwa-peristiwa utama dalam cerita.
Fokus utama film ini terletak pada Gin, Miyuki, dan Hana yang menemukan bayi Kiyoko yang baru lahir dibuang ke dalam tong sampah. Bayi itu hampir dianggap sebagai mukjizat Natal oleh Hana. Ketiga tokoh tersebut berusaha menyatukan kembali bayi itu dengan orang tuanya.
Film ini dengan sempurna menampilkan nuansa yang berkaitan dengan kebrutalan hidup. Dibandingkan dengan film-film Kon sebelumnya, film ini merupakan film yang ringan namun realistis tentang hubungan manusia. Masalah tunawisma tidak ditutup-tutupi sepanjang alur cerita.
Sebaliknya, film ini mempertemukan para tokoh saat mereka bersatu mengatasi kesulitan hidup. Salah satunya adalah Hana, seorang waria yang bergulat dengan kenyataan setelah kekasihnya meninggal dunia secara tragis. Dari AIDS hingga gender, film ini jauh melampaui zamannya dalam penggambaran dan representasi yang sensitif .
Sebagian besar pengguna Reddit menganggap penggambaran Hana sesuai dengan kehidupan nyata, meskipun selalu ada budaya pembatalan.