Meskipun penjahat bermata satu kita kembali, episode ini lebih banyak bercerita tentang Liz daripada orang lain. Dalam pertemuan pertamanya dengan Alicia dalam dua tahun, kita belajar banyak tentangnya sebagai karakter. Alih-alih menjadi jahat atau reinkarnasi seperti Alicia, Liz tampak seperti seorang idealis seperti yang terlihat. Namun, dua tahun ini telah mengajarkannya cara melakukan refleksi diri, yang pada gilirannya mengarah pada beberapa pengungkapan menarik.
Liz kini sadar bahwa segala sesuatunya akan berjalan baik untuknya. Yang harus ia lakukan adalah percaya pada sesuatu dan itu akan terjadi. Inilah yang memungkinkan pola pikir idealisnya berkembang sejak ia masih kecil. Jika ia percaya bahwa ia bisa berteman dengan seseorang, itu akan terjadi. Jika ia percaya bahwa ia bisa menyelamatkan seseorang, ia bisa.
Hal ini menjelaskan (setidaknya sebagian) reaksi Liz ketika ia datang untuk menyelamatkan Alicia yang diculik. Tidak ada keraguan dalam benaknya bahwa ia dapat menyelamatkan Alicia. Jadi, ketika bertemu Alicia yang tampaknya akan membunuh salah satu penculiknya, Liz panik dan membekukan Alicia, bukan penculiknya. Baginya, kekerasan yang terjadi di hadapannya adalah kesalahan Alicia. Jika Alicia tidak melakukan apa-apa, hanya menunggu dan mengikatnya, maka Liz akan menyelamatkannya tanpa ada yang terluka. Tentu saja, dengan menahan Alicia, Liz memberi kesempatan kepada penculik untuk membunuhnya, dan kesempatan itu akan berhasil jika Duke tidak mengambil pisau untuk Alicia.
Seluruh pengalaman itu memaksa Liz untuk mengevaluasi kembali dirinya dan cara dia melakukan sesuatu. Sekarang, dia tidak hanya memutuskan apa yang benar atau salah berdasarkan naluri; dia mendengarkan kedua belah pihak terlebih dahulu. Meskipun ini merupakan sebuah kemajuan—dan contoh penting tentang bagaimana dia berubah dan berkembang—ini hanyalah langkah pertama.
Ada dua masalah besar dengan Liz sebagai pribadi. Yang pertama adalah, seperti Alicia yang asli, dia tidak perlu berusaha untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Karena semuanya berjalan lancar (meskipun karena “takdir” dan bukan karena uang dan silsilah), dia menjalani hidup dengan santai. Karena itu, tidak ada dorongan baginya untuk menguji batas kemampuannya atau membuat rencana konkret untuk masa depan.