Dalam kisah asmara, kita sering kali melihat luapan emosi yang salah arah: saat salah satu pasangan mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya, yang membuat mereka terasing dari pasangan lainnya. Cerita kemudian mengalami pasang surut saat mereka meluangkan waktu untuk mengatasi perasaan cinta, malu, dan bangga. Ada banyak keresahan dan drama.
I’ll Become a Villainess Who Goes Down in History mengambil klise alur cerita yang dapat diprediksi itu dan membuangnya ke tempat sampah. Alicia mungkin tidak sepenuhnya yakin tentang perasaannya terhadap Duke dan bagaimana perasaan itu cocok dengan karakter penjahat yang dianutnya, tetapi dia yakin tentang satu hal: penjahat idealnya adalah wanita yang bertindak. Dia tidak duduk diam dan bersedih ketika keadaan menjadi sulit; dia menghadapi masalah secara langsung. Jika dia mengacau, dia akan meminta maaf. Jika dia disakiti, dia akan menjelaskannya dengan gamblang. Dan jika dia mencintai seorang pria—dia akan sangat yakin bahwa dialah yang akan menyerang.
Semua itu menghasilkan adegan yang fantastis di mana Alicia—di depan Liz dan semua penjilatnya—menunjukkan dengan jelas bahwa ia bermaksud menjadikan Duke miliknya dengan melakukan sesuatu yang keterlaluan seperti menyentuh wajah putra mahkota tanpa izin. Dan bagaimana reaksi Duke? Ia tertawa karena terkejut dan gembira. Ia tidak hanya ditempatkan pada posisi bertahan tetapi juga diizinkan untuk mengejar Alicia di tempat terbuka, yang merupakan keinginan hatinya yang sebenarnya.
Reaksi Liz sama pentingnya dengan reaksi Duke. Liz baru saja melihat Alicia melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukannya: membuat Duke tersenyum. Jelas siapa yang memenangkan perang memperebutkan hatinya, dan itu bukan Liz. Ini menjadi masalah karena, seperti yang dikatakan Liz kepada Alicia, segala sesuatunya berjalan baik untuknya. Selalu begitu dan dia berasumsi akan selalu begitu. Namun, tidak peduli seberapa keras Liz mencoba untuk memenangkan hati Duke atau berteman dengan Alicia, dia tampaknya tidak dapat melakukannya.

